There are times. When all we need to know is someone cares.And you are there for me in those times.Thank you for all that you are. And all that you do.Thanks for breaking my heart and hurt me.Yes, you make me stronger than before.
Home » Posts filed under fck
Tampilkan postingan dengan label fck. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fck. Tampilkan semua postingan
Dear You..
Oktober 10, 2013
Pak Polisi, mama minta pulsa..
Oktober 06, 2013
kejadian ini berlangsung beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 4 Oktober 2013 di Kota Surabaya daerah sekitar perempatan Pasar Besar.
kronologi cerita:
saya yang saat itu sedang mengendarai mobil sedan berjalan pelan karena sedang mencari posisi Bank Kesejahteraan untuk mengurus nomor PIN yang lupa. saat itu saya berhenti di Traffic Light dan berada pada posisi mobil ke-4 atau ke-5 entah saya lupa dari mobil terdepan. saat lampu berubah menjadi hijau semua kendaraan berjalan pelan, termasuk saya dan mobil di belakang saya. saya melewati zebra cross persis ketika lampu baru saja menyala kuning, jadi sepersekian detik dari hijau. mungkin lagi apes atau karena kendaraan saya bernomor polisi luar kota (N - Malang) hingga saya diberhentikan oleh petugas polisi yang dengan 'sigap' sudah ada di tengah jalan ketika saya lewat sedangkan mobil yang ada di belakang saya 'selamat' meskipun berada tepat di belakang saya yang berarti telah melewati traffic light lebih lama dari saya, bahkan mungkin saat lampu sudah berubah menjadi merah.
setelah basa basi saya dari mana dan mau kemana, petugas yang 'sigap' itu tadi membawa saya ke tempat dia 'nongkrong' yang letaknya tepat di pojokan jalan dan mulai menunjukkan buku tilang yang jadi 'pusakanya' untuk mejerat "pelanggar rambu" seperti saya ini. beliau langsung menanyakan saya ingin membayar langsung ke bank atau membayar melewati beliau seraya menunjukkan nominal yang harus dibayarkan jika melewati bank, yaitu Rp 500.000,- (WOW!!!) setelah itu beliau juga menawarkan membayar ditempat dengan nominal yang saya kehendaki. selama saya berfikir dan menimbang-nimbang mana yg akan saya pilih, si petugas bergaya sedang di telpon oleh istrinya (mungkin) karena dengan jelas saya mendengan "iya ma, besok insya ALLOH papa pulang", akhirnya saya putuskan untuk memberikan uang Rp 100.000,- kepada petugas tersebut lalu pergi.ada hal menarik yang ingin saya bahas di sini. pertama tentang kesalahan saya hingga saya harus diberhentikan, dan yang kedua mekanisme tilang yang diterapkan oleh petugas kepada saya sebagai pelanggar lalu lintas.
pertama, katakanlah saya memang bersalah karena melanggar lalu lintas tapi apa iya harus terjadi seperti kronologi di atas itu? secara saya dari luar kota dan perempatan yang saya lewati itu benar-benar menjebak. tidak akan mudah untuk menyadari bahwa di tengah jalan harus berhenti dikarenakan tidak lazim ada traffic light di tengah perempatan kan? karena normalnya traffic light ada di ujung-ujung tiap perempatan. bahkan menurut saya yang masih awam ini, saya maksimal hanya layak mendapatkan peringatan atas kesalahan saya. bahkan seharusnya saya cukup diberi arahan atas rambu yang 'menjebak' tersebut tanpa harus kena tilang.
kedua, apa iya setiap pelanggaran harus dikenakan biaya denda tertinggi? saya rasa tidak. dan yg dilakukan petugas itu menurut saya sudah salah besar. malah menurut saya itu hanya akal-akalannya saja agar bisa mendapat keuntungan dari ketidaktahuan saya tentang rambu tersebut. logikanya, mana ada orang lebih memilih membayar 500 ribu jika dia bisa membayar yg jauh lebih murah dari itu? bahkan saya tidak ditawarkan untuk menjalani sidang dalam kasus pelanggaran tersebut.
kalo sudah seperti ini, marah rasanya saya kepada petugas polisi yang ada di pinggir jalan itu, bukan rasa hormat atau bahkan salut karena telah bekerja mengatur lalu lintas. ditengah maraknya pemberitaan tentang kepolisian yang selalu negatif, ternyata masih saja ada oknum yang mengatasnamakan ketertiban untuk mencari keuntungan pribadi. saya rasa memang perlu untuk ditindak lanjuti, bagaimana rambu yang ada itu jelas dan mudah dimengerti oleh pengguna jalan, bukan membingungkan dan malah dijadikan objek kesalahan.
semoga, tidak kamu lagi!
Agustus 26, 2013
Maaf jika harus menuliskan ini, tapi ada rasa sedih saat melihatmu
bahagia. Bukan karena aku tak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku
yang membahagiakanmu. Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya
membuatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk, supaya aku dapat
melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan, sehingga doa
dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit (lagi), sama seperti dulu.
Namun ketahuilah sebelum aku sudah
tak lagi mencintaimu, ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi
tubuhku dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku. Ada
satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku, itu karena
aku mampu terima kamu apa adanya, aku mampu membuktikan bahwa inilah aku yang sekarang tak seperti aku yang dahulu.
Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku
pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya
ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi. Sebab hidup jadi
terasa bagaikan dinding yang dingin. Aku harus menjadi paku, sebab kamu bagai
lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai
aku benar-benar menancap kuat.
Pada akhirnya, semoga, tidak kamu
lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum
pulas. Sekali lagi maaf.
your decision..?
Maret 20, 2013
hari ini, ak terbangun dan mendapati diriku sudah berada di hari Rabu 20 Maret 2013 jam 00:55. sejenak berfikir, tampaknya sudah beberapa hari ini ak tidak akrab dengan ponselku. bahkan, sudah genap 3 hari ak tidak men-charge ponsel itu padahal sebelumnya 1 hari sekali harus sudah dicharge. (penting?)
cerita kali ini bisa kita mulai pada hari Jum'at kemarin, 15 Maret 2013. dan cerita ini diawali dengan sebuah pesan singkat/ SMS yang ga dibales. jadi ceritanya ak sedang smsn biasa dengannya, dan kemudian secara tiba-tiba "puff" dia menghilang. tanpa berita. like usual. ak yang pada dasarnya emang udah jarang mikir negative ya mikir dia mungkin lagi ribet dengan barang bawaan atau apalah disana, secara dia lagi perjalanan pulang dari Surabaya ke Blitar naik kendaraan umum. ak tunggu 5 menit, 15 menit, 30 menit, bahkan sampai lebih dari sejam. dan see, jam 19.xx dia buka whatsapp (aplikasi chat mobile) dan agak tidak mengenakkan kan jika sms kita "diacuhkan" berjam-jam tapi dia membuka "mainan" semacam itu? hancur sudah semuanya. dan super-nya, sampai detik ini tidak ada kata maaf yang keluar darinya.
ak bukan tanpa usaha, Sabtu pagi ak langsung memberinya sebuah opsi, sms silahkan ga sms juga silahkan. ak beri dia kebebasan untuk memilih daripada aku sendiri yang kecewa dbuatnya karena menunggu. dan melihat perkembangan akhir-akhir ini sudah jelas kan mana yang dia pilih?
sejak beberapa minggu yang lalu aku secara pribadi sudah memutuskan bahwa percuma saja meminta padanya, lebih baik menunggu kesadarannya sendiri, dengan begitu ak tidak akan dianggap "banyak maunya" meskipun hal itu seperti gajah yang membayangkan dirinya bisa terbang menggunakan telinga.
kalau mau sedikit mundur ke belakang, ini bukan sebuah masalah kepercayaan kita pada pasangan kan? ini juga bukan masalah negatif thinking atau semacamnya kan? tapi ini masalah respect kepada pasangan. masalah tentang bagaimana kita memperlakukan pasangan kita yang sudah berjuang keras untuk berubah demi orang yang dia sayang, demi dirinya yang lebih baik dari sebelumnya.
ini bukan tentang besarnya rasa egois seorang laki-laki yang enggan memulai percakapan dengan pacarnya, tapi tentang sebuah tanggung jawab besar bahwa setiap orang harus tau dan bisa menempatkan dirinya. kapan dia harus mengalah, dan kapan dia harus minta maaf karena kesalahan yang sudah berulang kali dia buat. mengecewakan, tapi tidak semua orang bisa menyadari itu tanpa menunggu tamparan dari orang lain terlebih dahulu.
andaikan sampai hari ini dia tidak merasa bersalah, tapi coba dipikir dengan pola pikir paling sederhana sekalipun. bagaimana posisi orang yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar tapi sempat membuka aplikasi chat mobile dan bukannya memberi kabar karena telah menghilang sebelumnya? ak yakin jawaban semua orang akan sama, bahwa orang itu ada diposisi yang salah.
tapi dia sudah memutuskan, dan ak cukuplah mengikuti apa yang dia mau. ak sudah memikirkan setiap kemungkinan yang mungkin terjadi nanti, sampai kemungkinan terburuk sekalipun, dan ak sudah siap dengan itu. bagiku, ak sudah berusaha dan berjuang dengan sangat serius selama ini untuknya, jadi jika pada akhirnya dia memilih untuk pergi, setidaknya ak memiliki keyakinan yang ak pegang teguh bahwa bukan aku yang bersalah dan yang bersalah tidak mau meminta maaf untuk kesalahannya melainkan memilih untuk pergi.
Story of Appreciation..
Februari 15, 2013
yuhuu, sekarang nih tanggal 15 Pebruari. santai, tanggal 14 udah terlalu mainstream, gak menarik sama sekali.. :)
kali ini kita bakal ngobrol sedikit tentang penghargaan. eits, woles (baca:selow=slow) aja, ini bukan tentang Academy Award, bukan pula pemilihan Miss Universe, atau pemilihan lainnya yang berujung pada penghargaan semacam itu. tapi ini tentang penghargaan atas suatu usaha, kerja keras, ketekunan, atau hal-hal semacamnya yang sifatnya kasat mata. hanya bisa dirasakan. hanya bisa diketahui jika kita memang benar-benar ingin melihat.
tentunya sudah tidak asing bagi kita kalo ada sebuah kalimat yang bunyinya, "hargailah jasa pahlawan, mereka telah berjuang demi kita semua". tapi coba dipikir lebih, kenapa kita harus menghargai? apa mereka yang meminta? tentunya tidak kan? nah berikut ini akan aku sampaikan pendapatku tentang itu semua.. ^^,
sebuah usaha, apapun bentuknya, memiliki tujuan yg sama yaitu mendapatkan apa yg diharapkan, mendapatkan apa yang diimpikan, diinginkan. bagaimanapun kondisinya dan bagaimanapun cara melakukan usaha tersebut, sudah pasti tujuannya adalah hal-hal itu tadi.
lantas, apa hubungannya dengan penghargaan? bukankah malah terkesan pamrih kalo seperti itu?
nah justru itu poin yg harus diperhatikan. jatuhnya memang pamrih kalo yg meminta adalah si pejuang itu sendiri. oleh karena itu, kita sebagai orang yang dituju, orang yang dijadikan target usaha, sudah sangat sepantasnya, dan bisa dikatakan hampir wajib untuk kita memberikan penghargaan kepada dia yang telah berjuang.
bisa kita bayangkan bagaimana rasa kecewa itu meremukkan perasaan ketika dia yang telah berjuang dan berusaha untuk kita justru diabaikan oleh orang yang ia perjuangkan?
aku tidak akan mengatakan HARUS untuk siapapun disini, tapi aku hanya ingin mengatakan luka dikulit bisa disembuhkan dengan cepat, luka itu akan mengering, lalu hilang tanpa bekas seiring berlalunya waktu. tapi luka dihati? siapa yang menjamin luka itu akan hilang? seumur hiduppun belum tentu luka itu bisa sembuh..
kali ini kita bakal ngobrol sedikit tentang penghargaan. eits, woles (baca:selow=slow) aja, ini bukan tentang Academy Award, bukan pula pemilihan Miss Universe, atau pemilihan lainnya yang berujung pada penghargaan semacam itu. tapi ini tentang penghargaan atas suatu usaha, kerja keras, ketekunan, atau hal-hal semacamnya yang sifatnya kasat mata. hanya bisa dirasakan. hanya bisa diketahui jika kita memang benar-benar ingin melihat.
tentunya sudah tidak asing bagi kita kalo ada sebuah kalimat yang bunyinya, "hargailah jasa pahlawan, mereka telah berjuang demi kita semua". tapi coba dipikir lebih, kenapa kita harus menghargai? apa mereka yang meminta? tentunya tidak kan? nah berikut ini akan aku sampaikan pendapatku tentang itu semua.. ^^,
sebuah usaha, apapun bentuknya, memiliki tujuan yg sama yaitu mendapatkan apa yg diharapkan, mendapatkan apa yang diimpikan, diinginkan. bagaimanapun kondisinya dan bagaimanapun cara melakukan usaha tersebut, sudah pasti tujuannya adalah hal-hal itu tadi.
lantas, apa hubungannya dengan penghargaan? bukankah malah terkesan pamrih kalo seperti itu?
nah justru itu poin yg harus diperhatikan. jatuhnya memang pamrih kalo yg meminta adalah si pejuang itu sendiri. oleh karena itu, kita sebagai orang yang dituju, orang yang dijadikan target usaha, sudah sangat sepantasnya, dan bisa dikatakan hampir wajib untuk kita memberikan penghargaan kepada dia yang telah berjuang.
bisa kita bayangkan bagaimana rasa kecewa itu meremukkan perasaan ketika dia yang telah berjuang dan berusaha untuk kita justru diabaikan oleh orang yang ia perjuangkan?
aku tidak akan mengatakan HARUS untuk siapapun disini, tapi aku hanya ingin mengatakan luka dikulit bisa disembuhkan dengan cepat, luka itu akan mengering, lalu hilang tanpa bekas seiring berlalunya waktu. tapi luka dihati? siapa yang menjamin luka itu akan hilang? seumur hiduppun belum tentu luka itu bisa sembuh..
kamu dan kemunafikan
Mei 06, 2012
well , tampaknya ak harus menuliskan beberapa "makian" di artikelku yang satu ini . pertama , aku sudah cukup muak dengan segala kepura-puraan yang selama ini aku tampilkan . kedua , aku sudah cukup bersabar untuk membiarkan semua berjalan begitu saja seakan semua baik-baik saja padahal keadaan yang ada tidak baik sama sekali . dan yang ketiga , berharap "kamu" membaca ini dan menyadari bahwa ini semua memang tentang "kamu" .
seperti yang pernah aku tulis beberapa minggu yang lalu , aku mempertanyakan semua cerita yang pernah kamu sampaikan . tentang pria-pria yang kamu katakan telah datang dan kini menghilang begitu saja . saat itu , tentu saja , semua cerita berasal dari sudut pandangmu sendiri . dan tidak mengejutkan saat semua cerita itu berujung dengan kamu sebagai korban dan mereka (laki-laki itu) sebagai seorang "penjahat" yang kalah dalam memperjuangkanmu .
tapi seiring waktu berlalu , sebuah kejadian (bukan sebuah sebenarnaya , karena kejadian ini berlangsung berkali-kali) membuatku menyadari sesuatu yang tidak beres di sini . dalam kasusku denganmu , kamu bukan korban tapi justru aku lah korbannya . awalnya aku masih menghargaimu dan memandangmu sebagai seorang wanita baik-baik , mulia , berprinsip , dan memiliki sebuah standar yang memang sudah kamu tentukan secara personal . namun , lagi-lagi setelah waktu berlalu , aku kehilangan segala pandangan itu . bahkan , kini aku cukup membencimu hingga aku mampu mengacuhkanmu saat aku melihatmu berdiri di hadapanku .
itu semua bukan tanpa alasan , bahkan aku memiliki alasan kuat untuk itu . kamu tau , bagiku kamu itu seorang wanita munafik . aku semakin membencimu saat kamu semakin lama semakin memainkan peranmu seakan-akan kamu adalah korban yang tidak bersalah dan patut dikasihani .
aku memang kecewa saat semua penawaranku tentang "masa depan" kamu mentahkan , tapi aku sudah cukup bijaksana untuk menerima semua itu . dan aku tetap berada di tempatku , tidak menerobos masuk ke tempatmu dan memaksamu mengikutiku ke jalur yang aku inginkan . tapi kamu seakan mengolok-olok aku dengan segala sikapmu . kamu pikir dirimu itu siapa? dulu , aku menghargaimu karena kamu aku anggap sebagai seorang wanita yang memang patut untuk dihargai . tapi kamu tidak melakukan hal yang sama kepadaku .
pernah suatu ketika aku berusaha membuangmu , jauh sebelum kebencianku memuncak seperti saat ini . aku cukup berhasil , namun kamu kembali datang dengan kata "rindu" yang seakan tulus kamu ucapkan . menaarikku kembali ke jalur yang sebenarnya sudah aku tinggalkan . tapi kemudian , kamu kembali menghilang . tidak ada penghargaan sedikitpun kepadaku , seorang laki-laki yang juga memiliki perasaan , sama sepertimu .
poin yang perlu diingat disini dan kesimpulan yang aku miliki , pertama kamu adalah seorang yang munafik , kedua kamu adalah seorang yang pandai bersandiwara , ketiga kamu adalah orang yang sangat piawai memutar balikkan keadaan , keempat kamu adalah seorang wanita yang ...
sudahlah , aku hanya ingin meluapkan emosiku . itu saja .
Langganan:
Postingan (Atom)
Say 'Hello' .. ^^


