Selamat datang dalam duniaku yang sempit ini. selamat menikmati apa yang telah aku tulis, tapi ada yang harus selalu kamu ingat bahwa tidak semua yang aku tulis adalah aku dan tidak semua yang aku bicarakan adalah kamu..
Tampilkan postingan dengan label | Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label | Cerpen. Tampilkan semua postingan

sisi lain (2 - bersambung)

Juli 27, 2011


Hari ini udara masih sama dinginnya dengan minggu kemarin saat tahun ajaran baru dimulai , dan sepertinya setiap orang lebih memilih duduk bergerombol di dalam kelas daripada berjalan jalan melawan rasa dingin . pagi itu Risang duduk di antara teman-temannya ketika Antang datang .

"hai Ris , aku ada info nih buat kamu ."
"info apaan Tang?" tanya Risang .
"si Iknaria ternyata udah punya cowok .." kata Antang .
"siapa emang pacarnya?" tanya Risang penasaran .
"kurang tau ya Ris , bukan anak sini pokoknya ." Jawab Antang .

Risang terdiam da memandang ke arah luar kelas , meskipun dia belum benar-benar menyukai Iknaria dan berusaha mendapatkannya , tapi setitik rasa kecewa terasa entah dari mana . Risang hanya melamun , berfikir tentang sesuatu , tentang Iknaria .

Siswa baru kelas X saat ini sedang sibuk memilih ekskul apa yang akan mereka ambil di tahun pertama mereka antara lain ekskul basket-voli-jurnalis-paski-musik-korsik-PMR-dan beberapa yang lain , dan terlihat sebagian dari yang ada lebih memilih untuk tidak memilih jika saja mereka boleh melakukannya .

Risang yang kebetulan baru saja terpilih menjadi ketua ekskul paski yang telah dia pilih memperhatikan Ikna dari jauh , seakan dia ingin berteriak memanggil gadis itu dan mengajaknya 1 perahu dengannya . namun niat itu menguap begitu cepat , Risang tau ia tak punya cukup keberanian untuk itu , dan dengan pasrah ia menghela ketika Ikna berjalan menuju ekskul lain , korsik .

"kenapa kamu tuh?" tanya Antang mengagetkan Risang .
"oh , gak apa-apa .." jawab Risang pelan .
"tampaknya kamu menaruh banyak perhatian ke Ikna .." kata Antang sedikit menggoda .
"haha , begitu kah kelihatannya?" tanya Risang berusaha ceria .
"jika memang harus direbut , yaa rebut aja ." kata Antang sambil nyengir dan berjalan menjauh .

dari sini , kisah Risang akan dimulai . sedangkan dibagian lain , seseorang telah lebih dulu memulai cerita sejak 2 tahun lalu sebelum Risang menyadari keberadaan Ikna ..

bersambung ..

sisi lain (1 - bersambung)

Juli 25, 2011


Risang berjalan menuju kelas barunya di pagi yang dingin . pagi ini semua tampak berbeda , bagaimana tidak , Risang sudah terbiasa bangun siang selama liburan kenaikan kelas kemarin , dan sekarang dia sudah harus berada di sekolah sebelum jam 7 pagi ..

sebelum semua ini dimulai , wajib untuk memperkenalkan siapa Risang ini . ya , namanya Risang . dia sekarang duduk di bangku SMA kelas XI dan ini adalah tahun keduanya disini . bagaimana wujud Risang? ah , sulit untuk menggambarkannya , tapi seiring cerita ini berjalan maka dia akan mudah dibayangkan berwujud seperti apa.

suasana sudah cukup ramai saat Risang memasuki kelas barunya , dan disana teman-teman barunya telah ramai memperebutkan tempat duduk .
"hei Sang , baru datang?" kata Antang , seorang wanita yang telah duduk di deretan tengah .
"yoi , aku baru datang .." jawab Risang santai .
"kalo gak cepet cari tempat duduk , kamu ntat duduk paling depan loh .." kata Antang memperingatkan disertai cengiran .
"Haha , gampang lah itu .." kata Risang sambil berjalan ke bagian belakang kelas .

hari itu berjalan biasa saja , tak ada yang spesial . terlihat dari dalam kelas anak anak kelas X baru yang sedang menjalani masa orientasi di lapangan depan sekolah . dan di dalam kelas tampak beberapa bangku kosong , bukan karena pemiliknya tidak masuk , namun mereka adalah anggota Osis yang hari ini hingga beberapa hari kedepan 'harus' berada di luar kelas dalam rangka orientasi adik kelas mereka .

"eh anaknya bu Santi masuk sekolah ini loo Ris , namanya Iknaria .." kata Antang yang selama beberapa hari kedepan menjadi panitia orientasi siswa .
"cantik apa tidak An?" tanya Risang .
"yaa not bad lah Ris , lihat saja sendiri nanti ." kata Antang enteng sambil berjalan ke arah tempat duduknya .
Iknaria .. aku akan mencarimu .. kata Risang dalam hatinya .

siang itu sepulang sekolah Risang berjalan ke arah ruangan dimana Ikna dan kawan kawan sedang di ospek oleh para senior mereka .. saat Risang mendekati pintu , Antang melihatnya dan berjalan mendekat .
"nyari Ikna?" tanya Antang .
"Hehe , kok tau?" tanya Risang sambil nyengir .
"sudah aku duga . Ikna itu yang duduk di deretan ketiga dari depan . wajahnya lugu ." kata Antang sambil menunjuk ke arah yang dia maksud .
Risang mengikuti arah yang ditunjuk Antang dan kemudian mengangguk pelan .
"oke , kita lihat nanti .." kata Risang sambil berjalan bersama teman-temannya ke arah belakang sekolah , meninggalkan Antang sendiri .
Iknaria Iknaria Iknaria .. pikir Risang dalam kepalanya yang seperti kelapa tua .

permintaan terakhir (6) - selesai

Mei 27, 2011


malam itu menjadi malam dimana mereka berada pada titik terendah selama Raka sakit . malam itu pun menjadi malam terdingin dimana membuat semua orang ingin duduk lebih dekat dan saling memberikan pelukan , hanya untuk menenangkan orang yang ada di sebelahnya . tapi bagaimanapun , malam itu memang malam yang sangat berbeda dengan semua malam yang pernah mereka lewati sebelumnya .

papa , mama , dan Raka masih menangis . seakan ada hal buruk yang sedang mendekat dan mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya , atau setidaknya menunda kedatangan hal tersebut .. sang dokter masih berdiri di sana , tidak segera meninggalkan ruangan itu , seakan masih ingin memandang Raka , mungkin untuk yang terakhir kalinya .

ia adalah seorang dokter yang baik , ramah , dan pengertian . ia bisa membuat Raka merasa nyaman . tak semata-mata menjalankan tugas , lebih dari itu ia menghangatkan perasaan Raka dan menyemangati Raka bahwa semua itu adalah memang kehendak Tuhan YME , dan dokter itu pula yang membuat Raka berhenti menyalahkan Tuhan atas keadaan yang ia alami saat ini .
"apa benar saya akan segera mati , Dok?"
tanya Raka suatu sore ketika dokter itu memeriksanya . saat itu mereka hanya berdua karena pemeriksaan tidak dilaksanakan di kamar Raka namun di ruang dokter .
"kita tidak tau berapa umur yang Tuhan anugerahkan kepada kita Raka , dan saya pun sebagai dokter tidak bisa , yang bisa saya lakukan hanya melakukan analisa dan perkiraan yang sangat besar kemungkinannya untuk mengalami sebuah kesalahan ."
jawab dokter itu lembut .
"jadi , menurut analisa dokter , apakah saya tidak memiliki banyak waktu lagi disini?"
tanya Raka , matanya telah dipenuhi air mata yang siap tumpah kapan saja .
dokter itu memandangnya , kemudian melanjutkan dengan sebuah jawaban pelan ,
"bagaimanapun , setidaknya kita telah berusaha semaksimal mungkin Raka .."

Raka menggenggam tangan papa dan mamanya , penuh sayang , bahwa dia kemudian berfikir bahwa Tuhan sangatlah mencintai dirinya karena diletakkan pada keluarga yang sangat mencintainya . papa dan mama yang sangat memperhatikannya . teman teman yang sangat menyenangkan . dan bahkan dia dipertemukan dengan seorang dokter yang sangat mengerti akan dirinya meskipun belum lama mereka bertemu ..

"permintaan Raka , untuk yang terakhir kalinya , Raka ingin menghabiskan waktu bersama papa dan mama .. 1 hari saja .. dan kemudian biarkan Raka beristirahat dengan tenang .."
kata Raka , meneteskan air matanya , perih ..
"jangan berkata seperti itu sayang , mama tak ingin mendengarmu mengatakan hal seperti itu .."
kata mama , menangis sejadi-jadinya di samping Raka dan kemudian melanjutkan ,
"kamu tak perlu meminta 1 hari dari kami , karena kami akan selalu ada disamping kamu sayang .."
"tidak Ma .. yang Raka inginkan kita menghabiskan waktu bersama , benar-benar bersama , Raka ingin melakukan hal yang menyenangkan dengan papa dan mama , setidaknya nanti akan ada yang bisa papa dan mama kenang saat Raka telah tiada .."
kata Raka masih disertai air mata yang terus membasahi pipinya .
"Pa .."
kata mama mengalihkan pandangan ke papa , seakan mengharapkan sebuah belas kasihan dari suami yang ia cintai itu , kemudian memeluknya , menangis di pundaknya ..
"kamu ingin kemana sayang?"
tanya papa , meneteskan air mata seorang ayah di hadapan seorang anak yang sebentar lagi pergi meninggalkannya ..
"Raka ingin ke pantai .. nanti kita bisa berfoto dan mengabadikan itu semua .."
kata Raka , berusaha ceria .. sungguh sakit hatinya melihat papa dan mamanya menangis , terlebih menangis karena dirinya sendiri .

papa memandang sang dokter yang masih berdiri di tempatnya tapi , seakan memohon sebuah persetujuan . dokter itu juga menangis , dan kemudian mengangguk kecil ..
---
pagi itu mereka berkemas , menyiapkan segala sesuatu yang sekiranya akan mereka butuhkan di pantai . keceriaan merambat menyelimuti ruangan itu , namun tak dapat ditutupi bahwa mendung hitam berada dalam hati semua orang yang berada dalam ruangan itu . Raka tampak ceria meskipun wajahnya pucat , dan saat ini ia sedang menggoda mamanya , berusaha membuatnya tertawa . sedangkan papanya tertawa dari sudut ruangan , sedang mempersiapkan pakaian .

sesaat kemudian dokter itu masuk , tersenyum pada Raka dan memintanya berbaring untuk melakukan pemeriksaan sebelum ia pergi bersama keluarganya .
"kamu tampak senang hari ini Raka? pertahankan , karena akan sangat membantu .."
tanya dokter itu , tetap tersenyum .
"sip dokter , ini akan menjadi hari yang tak akan saya lupakan ."
kata Raka bersemangat , matanya berkaca-kaca .

setelah selesai melakukan pemeriksaan , dokter itu berdiri dan memberikan ucapan selamat jalan pada Raka sekeluarga sebelum mereka pergi . sesaat setelah Raka menghilang dari pandangan , dokter itu tinggal sendiri di dalam kamar , memandang sekeliling , seakan ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat ia sayangi , kemudian berkata pelan ,
"kami akan selalu bersamamu , Raka .."

Sekitar pukul 11 siang Raka dan keluarganya sudah berada di pantai yang mereka tuju . suasanya disana sangatlah menyenangkan . setidaknya tidak banyak pengunjung karena hari itu memang bukanlah hari libur . mereka menghabiskan hari itu bersama , penuh canda dan tawa , mendung itu pun seakan hilang tertiup angin yang mereka ciptakan bersama .

sore itu mereka kembali ke rumah sakit dengan perasaan gembira yang meluap . sepanjang jalan mereka tertawa dan bercanda tentang hal-hal yang ada di sekita mereka . saat tiba di rumah sakit , dokter telah menantinya dan menyambut Raka dengan hangat sambil berjalan mengiringi Raka menuju kamarnya .
"Raka sayang papa dan mama , Raka minta maaf kalo selama ini sudah menyusahkan kalian berdua .."
kata Raka malam itu , tersenyum pada kedua orang tuanya .
"tidak sayang , kamu anak yang baik , dan kamu tidak pernah menyusahkan kami .."
kata mama penuh sayang . menggenggam erat tangan Raka .

seminggu setelah hari itu keadaan Raka makin memburuk . semua hal yang bisa dilakukan telah dilakukan demi mempertahankan Raka . namun Tuhan telah berkehendak , bahwa Raka telah cukup berada di dunia ini . Raka menutup matanya untuk yang terakhir kali dan tak akan pernah terbuka lagi , dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintainya ..

Selesai

permintaan terakhir (5)

Mei 26, 2011


malam itu Raka duduk di kursi tempat mamanya biasa duduk menunggunya , dengan tangan masih terbalut perban dan perekat yang menyatukan selang infus dengan urat nadinya ia memandang ke luar jendela . seakan tak mempercayai kenyataan yang ada . ya , saat ini Raka telah mengetahui kebenaran atas apa yang ia derita dari papanya beberapa hari yang lalu bahwa usianya tak akan lebih dari 100 hari lagi . ia ingin marah , namun pada siapa? seakan dia ingin menyalahkan Tuhan atas ketidakadilan yang ia alami .

dia mengalihkan pandangan ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam , papa dan mamanya sedang ke terminal menjemput kakek dan neneknya . dia memperhatikan jarum detik yang terus bergerak , dan ia sadar , setiap detak yang berbunyi seakan sebuah hitungan mundur ke arah kematiannya . Raka tau semua orang pasti mati nantinya , tapi menurut Raka tidak secepat itu ia harus menemui kematian . ada banyak mimpi yang belum ia raih , ada banyak hal yang ingin ia jalani di kehidupan ini , sekali lagi ia diburu rasa kecewa atas ketidakadilan itu .

pintu terbuka , membuat Raka menghapus air matanya yang tak terasa sudah membasahi pipi . ia mengira itu pastilah papa dan mamanya , ternyata bukan melainkan Nila . malam ini ia memakai baju terusan dengan bawahan setinggi lutut , tampak anggun dengan ramput ia ikat biasa . ia tersenyum dan kemudian masuk sambil membawa sekantong plastik yang Raka bisa menebak bahwa itu adalah buah-buahan .
"hai , gimana keadaan kamu?"
tanya Nila ceria , tampak bersyukur karena Raka sudah sadar dan tampak baik-baik saja meskipun sebenarnya ada kebenaran yang belum Nila ketahui .
"well , seperti yang terlihat , I'm fine .."
jawab Raka tersenyum pada Nila .
"dimana om sama tante? kug kamu sendirian?"
tanya Nila sambil duduk di atas ranjang .
"mereka menjemput kakek dan nenek di terminal . kamu kesini dengan siapa?"
tanya Raka berusaha membuat suasana lebih hidup .
"aku sendiri . tadinya mau ngajak mama , tapi mama ada janji sama temennya . kalo papa , kamu tau sendiri papa sibuk .."
jawab Nila sambil mengeluarkan apel dari dalam kantong plastik yang dibawanya tadi dan mengupasnya .
"setelah kecelakaan itu , kamu gak apa-apa Nil?"
tanya Raka . mereka memang belum bertemu lagi sejak kecelakaan itu , karena Raka tidak sadarkan diri saat Nila membawanya ke rumah sakit .
"gak apa-apa kug Ka , cuma lecet biasa aja ."
jawab Nila , kemudian menyadari sesuatu ,
"Laa kamu sendiri gimana? apa ada sesuatu yang tidak benar hingga kamu harus dirawat lama gini? aku khawatir banget waktu itu , takut ada apa-apa .."
"ah gak kug , ini cuma untuk pemulihan aja .."
jawab Raka , berdusta .

tak lama kemudian rombongan keluarga Raka datang , menyelamatkan Raka dari keharusan berbohong lebih banyak lagi kepada Nila . mereka semua mengobrol dengan ceria malam itu , bahkan Raka pun ikut ceria , seakan tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi tentang keadaannya .

sekitar pukul 9 malam Nila berpamitan dan berjanji akan menjenguk Raka lagi bila ada waktu luang . mama mengantar Nila keluar , sedangkan papa mendekati Raka , mengelus rambutnya , Raka bisa tau bahwa papanya ingin mengatakan betapa ia mencintai Raka , namun seperti yang semua orang ketahui , seorang ayah sangat sulit mengatakan hal itu .
---
Waktu terus berjalan dan hal yang ditakutkan oleh semua orang tampaknya akan benar-benar terjadi . keadaan Raka makin memburuk dan tidak menunjukkan perbaikan sama sekali . berkali-kali mama memohon pada dokter untuk menyembuhkan malaikatnya itu , namun berkali-kali pula dokter hanya bisa menggelengkan kepala .

sore itu semua berkumpul di kamar rumah sakit yang sejak 2 bulan terakhir telah menjadi kamar pribadi Raka , memandang cemas ke arah Raka ketika dokter memeriksanya . Raka hanya diam , sesekali menoleh pada mamanya dan tersenyum , seakan ingin mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja sehingga mamanya tak perlu khawatir lagi padanya .

"kita semua menyayangimu Raka , kamu harus bisa bertahan dan kuat .."
kata dokter itu , ketir suaranya terdengar jelas , bahwa apa yang dirasakan oleh orang-orang yang ada di dalam kamar itu juga dirasakan oleh dokter itu yang telah menjadi sahabat Raka 2 bulan ini .
"tentu saja Dok , saya pasti kuat , saya tak akan mengecewakan orang-orang yang menyayangi saya .."
kata Raka berusaha menguatkan suaranya . mama berlari mendekati ranjang Raka dan memeluknya erat .
"jika saja mama bisa menukar posisi kamu sayang .."
kata mama disela tangisannya .
"tidak Ma , jangan bicara seperti itu . Tuhan tau yang terbaik bagi hamba-Nya , dan jika Raka seperti ini , maka ini lah yang terbaik buat Raka .."
kata Raka sambil menggenggam tangan mamanya .

Kemudian Raka memandang papanya dan mengisyaratkan agar papanya mendekat . kini papa dan mamanya duduk berdampingan di samping Raka , ketiganya menangis , tapi Raka berusaha terlihat kuat dan kemudian berkata ,
"Raka ingin meminta sesuatu pada Papa , untuk yang terakhir kalinya .."

permintaan terakhir (4)

Mei 25, 2011


"ingat dulu waktu Papa terjatuh ngejar kamu supaya gak lompat ke kolam orang dewasa?"
tanya mama diiringi tawa papa dan Raka secara bersamaan .
"ingat Ma , Raka sampai nangis waktu papa pura-pura pinsan .."
kata Raka tetap tertawa sampai matanya berair .
"dan mama hanya bisa tertawa melihat itu dari jauh .."
kata papa menambahkan , tetap tertawa . dan kemudian suasana langsung sepi , tawa kebahagiaan itu menguap dengan sangat cepat .

Raka duduk bersandar pada ujung tempat tidurnya menghadap ke arah televisi , sedangkan papa dan mama duduk di seberang ruangan dekat dengan jendela , memandang Raka dengan penuh sayang . seakan mereka tak menyangka bahwa malaikat kecil mereka telah tumbuh dewasa , menjadi seorang laki-laki yang tangguh , namun sebentar lagi diprediksi akan pergi meninggalkan mereka untuk selamanya ..

mama tiba-tiba terisak , bersandar pada bahu papa , seakan tak mempercayai itu semua , tak mempercayai bahwa malaikat kecilnya sedang diambang kematian . Raka memandang mamanya , terlihat hampir ikut menangis tapi berusaha menahannya .
"Mama kenapa?"
tanya Raka lembut sambil mengalihkan pandangannya ke arah papa dan mamanya .
"tidak apa apa Sayang , Mama cuma bahagia melihat kamu sudah membaik .."
jawab mama sambil tersenyum tapi air matanya tetap mengalir .

beberapa saat kemudian seorang dokter masuk ditemani oleh dua orang perawat , tampak sedikit canggung saat melihat keluarga itu sedang menangis , namun segera menguasai diri dan menyapa Raka dengan ramah .
"bagaimana keadaan kamu hari ini Raka?"
"Mm , baik Dok .. lebih baik dari sebelumnya saya rasa .."
jawab Raka bersemangat .
"oke , biar saya periksa dulu tensi kamu .."
kata dokter itu , sekilas Raka merasakan getar kasihan dari dokter itu tapi belum sempat ia berfikir lebih jauh dokter itu sudah menidurkan Raka dan memeriksa tekanan darahnya .
"kapan saya boleh pulang Dok? sebenarnya saya sudah bosan di tempat ini .."
kata Raka saat dokter itu mmemeriksanya .
memandang Raka sejenak , kemudian tersenyum dan menjawab ,
"secepatnya kamu bisa pulang asal kondisimu sudah cukup baik .."
Raka hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban dokter itu , seakan dokter itu sedang mempermainkannya . melihat ekspresi Raka , dokter itu menghentikan pemeriksaan dan tersenyum pada Raka sambil berkata ,
"apa kamu sudah bosan bertemu dengan saya?"
"bukan begitu , tapi saya pengen cepet-cepet melanjutkan skripsi yang sudah tertunda beberapa waktu gara-gara kecelakaan itu .. sedangkan disini saya tidak boleh melanjutkan skripsi karena harus beristirahat ."
jawab Raka cepat .
"iyaa iyaa saya mengerti , pokoknya kamu menunjukkan hasil positif , saya akan langsung merekomendasikan kamu untuk bisa pulang secepatnya ."
kata dokter itu meyakinkan Raka dan kembali melanjutkan pemeriksaan .

beberapa menit kemudian dokter telah menyelesaikan seluruh pemeriksaan rutin pada Raka dan berjalan mendekati orang tua Raka , berbisik sebentar dan kemudian meninggalkan ruangan setelah sebelumnya tersenyum pada Raka dan menepuk punggungnya diikuti oleh kedua perawat yang sejak tadi membantunya .

Mama berjalan mendekati Raka ketika dokter itu telah menghilang dari pandangan , tersenyum pahit , dan kemudian berkata pelan sambil meneteskan air matanya lagi ,
"Mama sayang kamu Raka , kami semua menyayangimu .."
sedikit terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh mamanya , Raka hanya terdiam dan beralih memandang papanya yang juga berjalan mendekat ..
"ada yang ingin papa katakan padamu nak .."

permintaan terakhir (3)

Mei 24, 2011


Pria paruh baya itu berjalan mendekati istrinya yang duduk melamun di samping jendela kamar .. wajah wanita itu tampak lusuh , tanda-tanda kelelahan telah nampak di raut mukanya yang mulai menunjukkan keriput . tangan wanita itu bergetar sedikit , bermain-main dengan pinggiran kursi yang ia duduki , tak menyadari kedatangan suaminya ..
"Ma , ayo makan dulu .. nanti Mama sakit .."
kata papa sambil mengelus punggung mama .
"Mama tidak lapar ."
jawab mama masih memandang ke luar jendela .
"kalo Mama sakit , nanti siapa yang nunggu Raka disini? ayo Lah Ma , Mama harus makan dulu .."
akhirnya dengan sedikit bujukan mereka berdua berjalan menuju kantin rumah sakit . suasana pagi itu masih sepi , beberapa orang tampak duduk di teras kamar pasien , berbicara pelan dengan orang di sampingnya . papa dan mama berjalan pelan , mama bersandar pada bahu papa , berharap itu semua hanya mimpi .
---
seketika suasana langsung ramai , beberapa orang berlari menuju Nila dan Raka yang baru saja jatuh dari motor mereka , sedangkan orang yang memotong jalan sudah kabur entah kemana meninggalkan motornya yang ikut terjatuh begitu saja karena takut diamuk masa .

Nila mengalami beberapa luka kecil di tangan dan dagunya . sedangkan Raka tampak tidak mengalami luka serius , hanya lecet sedikit pada lengannya . Nila bisa langsung berdiri dan berjalan menghampiri Raka yang baru saja digotong oleh beberapa orang ke tepi jalan , tidak bergerak . Kepanikan segera menyelimuti Nila melihat Raka seperti itu .
"apa yang terjadi? tidak nampak luka luar yang parah , apa mungkin terjadi luka dalam yang begitu parah?"
pikir Nila panik .

beberapa orang berteriak untuk segera menghubungi ambulan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan , beberapa orang lagi berteriak meminta air mineral untuk Raka . sedangkan Nila masih panik memandang Raka dari sisi yang lain . segera saja Nila menghubungi mama Raka .
"selamat siang Tante , ini Nila .."
kata Nila segera setelah mama Raka mengangkat panggilan . ada nada panik dalam suara Nila .
"oh Nila .. ada apa Nil?"
tanya mama ramah .
"Mm , Raka kecelakaan Tante . sekarang sedang dipanggilkan ambulan ."
kata Nila cepat .
"apa?! kecelakaan dimana? bagaimana keadaan Raka sekarang Nil? ya Alloh .."
kata mama mendadak panik dan terdengar isak tangisnya .
"tadi pas mau ke perpus kota Tante .. Nila gak tau Raka gimana , dia gak luka apa apa tapi pinsan sampai sekarang .."
jawab Nila juga ikut terisak .
"ya sudah nanti kamu hubungi Tante lagi kalo sudah di rumah sakit . tante sekarang mau kasih kabar ke papanya Raka ."
jawab mama penuh kepanikan .
"iyaa tante ."
jawab Nila disambut dengan nada terputus dari sambungan panggilan itu .

Tak lama berselang terdengar suara ambulan mendekat dan beberapa petugas medis turun untuk memberikan pertolongan pertama pada Raka . kurang dari 5 menit kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit . Nila duduk di samping Raka , tak bisa menahan tangis ..

permintaan terakhir (2)

Mei 23, 2011


wanita paruh baya itu tertidur disamping tempat tidur seorang anak laki-laki , tangannya menggenggam erat anak itu , seakan takut bila tiba tiba seseorang membawa pergi anak itu tanpa permisi . diseberang ruangan dekat jendela juga tampak tertidur seorang laki laki paruh baya yang sedang memegang sebuah map besar berwarna coklat di tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang sebuah plastik berwarna gelap yang hampir terjatuh ke lantai .

dalam keheningan itu tiba tiba tangan anak itu bergerak sedikit dan langsung membangunkan wanita itu yang kemudian memanggil pria yang ada di seberang ruangan ..
"Pa , Raka .."
dengan cepat laki laki itu berjalan mendekat dan memegang tangan Raka yang masih bebas . memandang dalam ke wajah anak itu , seakan menunggu Raka mengatakan sesuatu . namun Raka tetap diam , matanya tertutup rapat , melahirkan sebuah rasa kecewa pada laki laki dan wanita itu .
"setidaknya ia bergerak .."
kata laki laki itu pelan .
"apa maksud Papa? dia belum mati!"
kata wanita itu keras , tak mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya itu .
"maafkan Papa , maksud Papa setidaknya Raka menunjukkan respon yang baik Ma .."
kata papa sambil memandang ke arah mama dengan wajah penuh penyesalan .

beberapa menit kemudia adzan subuh terdengan dari mushola rumah sakit itu , papa berdiri dan menuju ke arah pintu ..
"kita gantian saja sholatnya Ma , biar ada yang menjaga Raka ."
kata papa pelan , namun mama diam saja , hanya menganggukkan kepala tanda bahwa mama mengiyakan apa yang dikatakan papa .
---
 Raka sedang berjalan bersama teman temannya ketika Nila , sahabatnya memanggil dari arah belakang dan membuat Raka menghentikan langkahnya dan menoleh .
"ada apa La?"
tanya Raka .
"nanti jadi?"
tanya Nila . Raka terdiam sejenak , tampak sedang mengingat sesuatu dan kemudian menjawab dengan riang ..
"tentu saja .."
"ya udah , nanti ketemu di tempat parkir ya .."
kata Nila sambil berbalik dan berjalan menjauh .

sekitar pukul 1 siang Raka berjalan menuju tempat parkir kampus , dan di sana Nila telah menunggu Raka dengan wajah galak .
"ayo cepetan Ka , panas nih!"
kata Nila saat Raka telah berada dalam jangkauannya .
"iyaa iyaa , maaf , tadi masih diskusi sebentar sama Pak Darmawan .."
jawab Raka meminta maaf .

setelah itu mereka berangkat menuju ke perpustakaan kota menggunakan motor Nila karena Raka tidak membawa kendaraan . sepanjang jalan mereka bercanda , menikmati teriknya matahari siang itu . disebuah pertigaan kecil tiba-tiba melintas seorang pengendara motor lain yang langsung membuat Raka tidak bisa menguasai kendaraan yang ia naiki . dan sebelum mereka menyadari apa yang terjadi , mereka telah terpental dan jatuh di atas aspal yang panas siang itu . Nila jatuh ke bagian kiri jalan tak jauh dari motornya yang ambruk , sedangkan Raka ...

permintaan terakhir (1)

Mei 22, 2011


ini adalah sebuah cerita pendek , sangat pendek hingga kamu tak akan menyadari bahwa telah membaca sampai akhir ..

---
"bagaimana keadaannya Pa?"
tanya seorang wanita paruh baya pada suaminya ketika suaminya berjalan mendekat .
"dokter bilang mereka sudah berusaha semampu mereka .."
jawab pria itu lemah , seakan tak ada hal lain yang ingin ia lakukan lagi .
"lalu bagaimana?"
tanya wanita itu tidak sabar .
"mereka bilang umurnya tidak akan lebih dari 100 hari Ma .."
kata pria itu sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya , duduk bersandar di kursi lorong rumah sakit .
"tidak , itu tidak mungkin!"
kata wanita itu keras .
"jika mereka telah melakukan semampu mereka , mereka harus lebih berusaha lebih keras lagi untuk anakku!!"
air mata membasahi pipi wanita itu , raut kesedihan dan ketakutan terpancar dari wajah itu .
"Papa sudah katakan itu Ma , tapi mereka benar-benar telah melakukan semaksimal mungkin ."
Kata pria itu semakin lemah .
"anakku akan selamat . hanya Tuhan yang tau umurnya , bukan dokter atau manusia lain!"
kata wanita itu tegas meskipun suaranya gemetar karena sedih . Mereka tau bahwa berita itu benar , tapi berusaha tidak mempercayainya .
***
"Ma , aku nanti pulang telat , nanti mau cari bahan skripsi sepulang kuliah .."
kata Raka kepada mamanya sambil berjalan ke arah dapur , tempat mamanya menyiapkan sarapan .
"iyaa Ka , tapi jangan pulang terlalu malam ."
kata Mama lembut sambil tersenyum ke arah Raka .
"oia Ma , Papa mana?"
tanya Raka sambil mengambil sebuah roti dari hadapannya .
"masih di kamar mungkin , ada apa? tumben nyari Papa .."
jawab Mama .
"tidak apa-apa Ma , cuma pengen kumpul bareng aja sebelum aku pergi .."
Kata Raka datar , tapi membuat Mama langsung menghentikan aktivitasnya dan tertegun . entah perasaan apa itu , seakan-akan Raka telah mengucapkan sebuah kalimat perpisahan , tapi Mama mengacuhkannya dan kembali melanjutkan aktivitasnya tadi yang sempat terhenti .
"pagi Pa"
kata Raka ketika papa datang dan duduk di depannya .
"pagi nak .."
jawab papa singkat .
"oiyaa Pa , bisa ngantar Raka ke kampus gak?"
tanya Raka .
"tumben minta antar Papa? memangnya motor kamu kenapa?"
tanya mama sebelum papa sempat menjawab .
"gak apa-apa Ma , pengen aja ."
jawab Raka sambil tersenyum .
"yaudah nanti bareng Papa aja kalo gitu"
jawab papa menyanggupi .
15 menit kemudian Raka berpamitan dengan mama dan bergegas menuju mobil yang di parkir di depan rumah .
"ingat Raka , jangan pulang terlalu malam ."
kata mama .
"sip Ma .."
jawab Raka .
"hati-hati .."
kata mama lagi .
"beres Ma .. Love you .."
Kata Raka sambil masuk ke dalam mobil .
ada yang tidak beres pagi ini dengan Raka , setidaknya itulah yang di rasakan oleh wanita itu yang tak lain dan tidak bukan adalah mama Raka . pertama ketika Raka menanyakan papanya , kedua saat ia mengatakan 'pergi' , dan yang terakhir ketika Raka mengatakan 'Love you' .. tapi dengan cepat wanita itu menyingkirkan semua pikiran itu dan masuk ke dalam rumah .

Namaku 'Dina'

Mei 17, 2011


Ini adalah sebuah cerita , hanya cerita , tentang suatu kepingan dalam jutaan kepingan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari , yang bahkan tidak kita sadari ..
---

"Kakak , kuliah apa kerja?"
"Kerja"
jawabku malas , tak tahan dengan panas matahari yang menyengat .
"Kakak bisa kerja karena kuliah ya? kalo kuliah begitu ngambilnya jurusan apa biar bisa kerja di kantoran? terus kalo kuliah itu biayanya berjuta-juta ya kak? bayarnya sekali apa boleh dicicil? terus kalo bayarnya mahal kenapa masih banyak yang ga bisa kerja kak? harus kerja berapa lama biar bisa menutup ongkos kuliah?"
Aku semakin mlongo mendengar pertanyaan anak sekecil ini yang duduk disebelahku dikursi panjang kios minum pinggir jalan .

Kuberikan senyum termanisku ,
"namamu siapa?"
"Namaku Dina ."
jawabnya pendek .
"kelas berapa?"
"ihh , kakak kan aku yang nanya dulu ga dijawab malah ganti nanya!" 
mukanya berubah menjadi sewot .
"Habis kamu masih kecil pertanyaanmu cerdas banget , sampe kakak ga bisa jawab . Namaku Putra , kamu Dina ya? jadi gini Din , memang seh kuliah itu biayanya mahal , semoga aja nanti waktunya Dina kuliah , Dina bisa dapet biaya kuliah yang murah , belajar yang pinter aja Din biar bisa dapet beasiswa . Jadi nanti bisa kuliah gratis ."
"Hah , gimana caranya kak kuliah gratis?" 
terlupakan semua deret panjang pertanyaannya .
"Emang Dina mau jadi apa nanti?" 
tanyaku .
"Aku gamau jadi apa-apa kak ,aku cuman mau punya gaji yang tetap tiap bulan , kaya bibiku dia tiap bulan dapet gaji dari pabriknya , kan enak tuh kak , tinggal kita tunggu nanti duitnya dateng sendiri . kakak juga gitu ya?" 
tanyanya polos .
"Hehehe , Alhamdulillah begitu Din ."
"Jadi gimana bisa kuliah gratis?" 
cercanya lagi .
Kuteguk air mineral itu , dan kuhela nafasku , merinding dengan semangat yang dia hembuskan .
"Jadi gini Din , kalo kita pinter nee , biasanya ada pendaftaran untuk dapat beasiswa , intinya kalo kita udah jadi pinter gampang kok dapat yang gratis . Oh iya tadi belum dijawab , Dina kelas berapa?"
"Kelas 4 kak ."
"Wah hebat kelas 4 udah bisa mikir soal kuliah , dulu aja kakak kelas 4 belum mikir apa-apa . Eh Din , rumah kamu dimana?"

"Dsitu tuh .."

menunjuk arah gang kecil dibelakang mall besar itu .
"Bapakku tukang angkatin sampah kak , trus ibuku nyuci . aku punya adik 3 kakak 1 ."
"Terus Dina ngapain maen jauh-jauh kesini?"
tanyaku heran .
"Rahasia ya kak , aku tadi habis ngamen sama teman-temenku , ibuku ga tau apalagi bapakku , kalau tau aku bisa dipukulin ."
"Nah kenapa dilanggar Din kalo ga boleh?"
"Aku pengen punya uang jajan kak , pengen punya tabungan . Kan malu kalau minta sama bapak sama ibu ."
Aku seperti dijatuhi berton-ton batu , anak sekecil ini tau kesulitan orang tuanya , bahkan bisa merasa malu kalau minta , duh betapa ga tau malunya aku 80% umur yang kupunya aku selalu minta-minta sama orangtua . Aku hanya bisa menatap dia penuh bangga sekaligus kagum.
"Terus hari ini dapet berapa Din?"
"Dapet 29 ribu kak , nanti dibagi kami bertiga , eh tadi ada yang baik loh kak , masa diisi 5ribuan , tapi kami kasian juga jangan-jangan dia salah masukin , gimana kalo dia bener salah dan itu uang terakirnya? kami tadi mau nanya kak beneran dia kasih segitu apa ga? tapi kami tak tau yang mana orangnya ."

God , makhluk apa yang kaukirimkan menemani gundahku siang ini? tak ada sayap , kaki mungilnya bahkan benar-benar menapak di tanah . Tapi dia punya hati yang luar biasa , hati yang nyaris tak kupunya .

"Kak , udahan ya ngobrolnya aku pulang dulu , nanti ibuku marah , minuman kakak udah kubayar , terimakasih ceritanya ."
"ih Dina apaan seh kok malah bayarin minum kakak? ga ah ." 
kukejar dia , kusodorkan selembar rupiah kedia , dan dibukanya itu lembaran ,
"kakak minum tadi harganya 1500 , bukan 50ribu , malu kak udah kerja gatau hitung-hitungan ."
"ih Dinaaa .." 
kucubit pipinya .

"Udah kak ,"
disodorkan lembaran itu kepadaku,
"anggap minum tadi adalah salam perkenalan kita , nanti kalau kita ketemu lagi , bolehlah kakak traktir aku .." 
Harga diriku jatuh berantakan di depan gadis bergaun bunga-bunga kecil di depanku itu , kupeluk dia .
"Makasih ya Din .."
bayangan ayam goreng fastfood itu mendadak musnah , kusodorkan padanya ,
"ini gantian kakak kasih kamu salam perkenalan .."

Dia terima dengan malu-malu ,
"kenapa kakak ga kasih ini daritadi sih? aku daritadi cium wanginya sambil tahan perut loh . Makasih ya kak"
triaknya sambil berlari pulang ,
"nanti kakak beli lagi aja ya pake uang yang itu tadi , kalau ga cukup Dina doain ada yang traktir kakak . Hahahaha .." 
tawanya terdengar renyah dan indah ditelingaku .. Malaikat-Nya yang dikirim dalam bentuk gadis cerdas yang meluluhlantahkan hatiku , meremukkan egoku ketika mempertanyakan kasih-Nya , yup , namanya Dina ..

Surat Cinta

Maret 27, 2011



Ini adalah sebuah kisah yang terlahir diantara ribuan kisah cinta yang ada didunia , diantara ribuan kisah cinta yang mungkin anda temui dalam menjalani hidup , dan ini adalah sebuah kisah yang [mungkin] akan membuat anda bisa lebih mengerti pasangan anda ..
------ JIKA ANDA BUKAN PEMBACA YANG BAIK , SILAHKAN BERHENTI SAMPAI DISINI ----------

Suami saya adalah seorang yang sederhana , saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya ketika saya bersandar di bahunya .

Tiga tahun dalam masa perkenalan , dan dua tahun dalam masa pernikahan , saya harus akui bahwa saya mulai merasa lelah , alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan .

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus . Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen . Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan . Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan .

Dia kurang sensitif dan kurang romantis . Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal .

Suatu hari , saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya , bahwa saya menginginkan sebuah perceraian .
"Mengapa?" , tanya suami saya .
"Saya lelah , kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan ," jawab saya .

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya , tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu , padahal tidak . dia hanya duduk diam seperti patung .

Kekecewaan saya semakin bertambah , seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya bahkan ketika istrinya menginginkan sebuah perceraian , apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Tapi akhirnya suami saya bertanya , "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan namun mantap ,"Saya punya pertanyaan , jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya , saya akan merubah pikiran saya dan bertahan bersamamu ."

"Seandainya , saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung . Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu kamu akan mati . Apakah kamu akan tetap memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata , "Saya akan memberikan jawabannya besok ."

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya .

Keesokan paginya , dia tidak ada di rumah , dan saya menemukan selembar kertas dengan ooretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ..
------------ read me -------------
"Sayang , saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu ."
Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya . Saya melanjutkan untuk membaca kelanjutannya dengan perasaan kecewa .

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap bulannya , dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal ."

"Kamu senang diam di rumah , dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh' . Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami di luar sana ."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi , terlalu dekat membaca buku , dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu . Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti , saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu ."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu , membimbing kamu menelusuri pantai , menikmati matahari pagi dan pasir yang indah . Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu ."

"Tetapi Sayang , saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati . Karena , saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir melihat tubuhku yang tergolek tak bernyawa ."

"Sayang , saya tahu , ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu . Untuk itu Sayang , jika semua yang telah diberikan tangan saya , kaki saya , dan mata saya tidak cukup buat kamu , saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan , kaki , dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu ."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur , tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya .

"Dan sekarang , Sayang , kamu telah selesai membaca jawaban saya , jika kamu puas dengan semua jawaban ini dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini , tolong bukakan pintu rumah kita , saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu ."

"dan jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini , Sayang , biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya , dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu . Percayalah , bahagia saya adalah bila kamu bahagia ."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya .

Kini saya tahu , tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya .
------------------------------ selesai ---------------------------------

Itulah cinta , di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan , maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya .

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita , dan bukan mengharapkan wujud tertentu . Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga" .

ps: terinspirasi dari ...

(kenapa) CINTA itu buta ?

Maret 13, 2011



ini adalah sebuah cerita tentang kenapa 'cinta' itu buta . Dahulu kala , sebelum dunia diciptakan seperti yang kita kenal sekarang , dan manusia belum menginjakkan kakinya di sana , semua sifat yang ada berkeliaran tak tentu arah dan merasa bosan , tak tahu apa yang ingin dilakukan .

Suatu hari mereka berkumpul dan merasa lebih bosan lagi daripada sebelumnya , sampai ketika 'Kecerdikan' mengemukakan usul "Ayo kita bermain petak umpet!" Mereka semua menyukai ide itu , dan 'Kegilaan' berteriak: "Aku ingin menghitung , biar aku saja yang menghitung dan menemukan kalian semua!" Dan karena tidak ada yang cukup gila untuk ingin mencari 'kegilaan' , semua setuju . Kegilaan segera bersandar kepohon dan mulai menghitung , "Satu , dua , tiga .."

Sementara Kegilaan menghitung , semua sifat bersembunyi . 'Kelembutan' menggantung dirinya di ujung bulan , 'Pengkhianatan' bersembunyi di tumpukan sampah . 'Kasih sayang' bergulung di antara awan , dan 'Nafsu Kegairahan' pergi ke tengah bumi . 'Kebohongan' berkata akan bersembunyi di bawah batu , tapi ternyata justru bersembunyi di dasar danau . Sementara itu , 'Ketamakan' masuk ke dalam kantung yang kemudian ternyata dirobeknya karena kantung itu dianggap kurang luas .

Dan 'Kegilaan' masih terus menghitung , "Tujuh puluh sembilan , delapan puluh , delapan puluh satu .." Ketika itu , semua sifat telah bersembunyi , kecuali 'Cinta' . Seperti sifat 'Keragu-raguan' , demikianlah cinta , dia tak bisa memutuskan kemana harus bersembunyi .

Dan ini tentu tidak mengejutkan karena kita semua tahu betapa sulitnya menyembunyikan 'cinta' . Pada saat 'Kegilaan' sampai pada hitungan ke-99 , 'Cinta' segera melompat bersembunyi ke kebun bunga Mawar . Dan dengan bersemangat 'Kegilaan' berbalik dan berteriak , "Bersiaplah , aku datang! Akan kutemukan kalian semua!"

'Kemalasan' adalah yang pertama ditemukan , karena dia bahkan tidak punya semangat untuk mencoba bersembunyi , disusul oleh 'Keragu-raguan' yang masih mondar-mandir karena tak yakin ke mana harus sembunyi .

Kemudian , secara beruntun 'Kegilaan' segera menemukan 'Kelembutan' di ujung bulan , 'Kebohongan' di dasar danau dan 'Gairah' di tengah bumi . Satu persatu 'Kegilaan' menemukan mereka semua , kecuali 'Cinta' . 'Kegilaan' mulai semakin gila karena putus asa untuk menemukan 'Cinta' .

Tapi 'Kecemburuan' yang iri pada 'Cinta' yang belum juga ditemukan , berbisik pada 'Kegilaan' , "Kau hanya perlu mencari 'Cinta' di semak bunga Mawar ." 'Kegilaan' mengambil garpu taman dan menusukkannya serampangan kearah semak Mawar . Dia terus menusuk sampai terdengar suara tangis memilukan yang membuatnya berhenti . 'Cinta' keluar dari persembunyiannya sambil menutup mukanya dengan tangan . Di antara jari-jarinya mengalir darah yang ternyata berasal dari kedua matanya .

'Kegilaan' yang terlalu bersemangat menemukan 'Cinta' tanpa sengaja telah melukai 'Cinta' .
"Apa yang telah kulakukan!" teriak 'kegilaan' panik , "Aku telah membuatmu buta! Bagaimana aku harus memperbaikinya?"
'Cinta' menjawab , "Kau tak mungkin memperbaiki mataku . Tapi kalau kamu bersedia melakukan sesuatu untukku , kamu bisa menjadi penuntunku ."

Dan sejak itulah , 'Cinta' menjadi buta , namun dia tetap bisa melihat dalam keadaan apapun bahkan dalam kegelapan hati , karena dia selalu didampingi oleh 'Kegilaan' .

Ibu , kenapa menangis?

Februari 26, 2011



"Ibu , kenapa menangis?" tanya seorang anak kepada ibunya . Ketika itu si ibu sedang menyuap makanan ke mulut si anak .
"Karena ibu seorang wanita ," jawab si ibu sambil mengesat air matanya .
"Apa maksud ibu?" si anak bertanya lagi .

Ibunya cuma tersenyum sedang air mata masih merembas , membasahi pipi . Dipeluk anaknya erat-erat , lalu berkata "Anakku , saat ini kamu memang tak akan mengerti .."
Kemudian anak itu bertanya pula kepada ayahnya "Ayah , kenapa ibu mudah menangis?"
"Semua wanita memang mudah menangis ," hanya itu jawapan yang mampu diberikan ayahnya .

Masa berlalu , si anak tumbuh besar dan menjadi lelaki dewasa , namun dia masih tertanya-tanya , mengapa wanita mudah menangis? Sampai tiba waktunya si ibu dipanggil pulang ke Rahmatullah . Kerinduan yang amat sangat menyebabkan si anak terbawa rasa rindunya ke dalam mimpi . Di dalam mimpi itu , si ibu memimpin tangan si anak sambil berkata:
"Anakku , Allah telah ciptakan wanita sangat istimewa . Dijadikan-Nya bahu wanita itu cukup kuat agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya . Namun ia juga cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur nyenyak . Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan dan mengeluarkan bayi dari dalam rahimnya walaupun kerap kali ia menerima cercaan dari si anak . Keperkasaan itu juga membuat wanita tetap bertahan , pantang menyerah walaupun ketika orang lain sudah berputus asa . Kepada wanita jugalah Allah berikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih , sakit dan lelah tanpa berkeluh-kesah . Ingatlah anakku , dalam hati setiap wanita itu , Allah telah tetapkan perasaan kasih sayang dan peka untuk mencintai semua anaknya tanpa melihat keadaan atau paras rupa . Walaupun acap kali anak-anak melukai perasaan dan hatinya . Allah juga memberikan wanita suatu kekuatan luar biasa untuk membimbing suami melalui saat-saat genting dan sukar serta menjadi pelindung walaupun sepatutnya dialah yang harus dilindungi . Kemudian Allah berikan wanita kebijaksanaan , ketabahan serta kelembutan untuk menangkis segala keburukan suami . Walau sering kali ia akan menguji setiap kesetiaannya kepada suami agar tetap berdiri sejajar , saling melengkapi dan menyayangi . Dan anakku , air mata adalah permata paling berharga yang Allah kurniakan kepada setiap wanita supaya dia bisa mencurahkan perasaan suka dan dukanya . Jika kamu berfikir air mata adalah kelemahan wanita , kamu telah salah . Air mata adalah kekuatan wanita , di situlah perasaannya berderai; duka , gembira , bahagia , sengsara , bahkan cintanya terungkap melalui air mata ."

Air mata wanita adalah air mata kehidupan , tiba-tiba si anak terjaga . Barulah dia sadar betapa teguh dan kuatnya seorang wanita ..

"Hawa diciptakan bukan dari kepala Adam , bukan juga dari kaki untuk dijadikan alas , TAPI dari rusuk untuk dijadikan teman hidup , dekat dengan lengannya untuk dilindungi , dan dekat dengan hati untuk dicintai .."

Trilogi Pohon , Daun , dan Angin

Januari 01, 2011



POHON
Orang2 memanggilku "pohon" karena aku sangat baik dalam menggambar pohon .
Aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark semua lukisanku .
Aku telah berpacaran sebanyak 5 kali atau mungkin lebih . Ada satu wanita yang sangat Aku cintai , tapi Aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya ..
Dia tidak cantik .. tidak memiliki tubuh yang sexy .. dia hanya wanita biasa .
Dia sangat peduli dengan orang lain .. Religius ..
Aku menyukainya .. sangat menyukainya ..
Gayanya yang innocent dan apa adanya .. kemandiriannya .. kepandaiannya dan kekuatannya ..

Alasan Aku tidak mengajaknya kencan karena ..
Aku merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku .. Aku takut , jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang . AKU takut kalau gosip gosip yang ada akan menyakitinya .. Aku merasa dia adalah "sahabatku" .. Aku akan memilikinya tiada batasnya .. tidak harus memberikan semua yang aku miliki hanya untuk dia karena ia hanya "sahabat" ..

Alasan yang terakhir , membuat dia menemaniku dalam berbagai hal selama 3 tahun ini .. Dia tau Aku mengejar gadis gadis lain dan Aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun pula ..

Ketika Aku mencium pacarku yang ke-2 , hal itu secara tak sengaja terlihat olehnya .. Dia hanya tersenyum dengan wajah memerah .. "lanjutkan saja" katanya , setelah itu pergi meninggalkan kami . Esoknya , matanya bengkak dan merah .. Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis .. Aku tertawa , bercanda dengannya seharian di ruangan itu dan kemudian aku harus pergi untuk bertemu pacarku ..
Di sudut ruang itu dia menangis , dia tidak tau bahwa Aku kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal .. Hampir 1 jam kulihat dia menangis disana ..

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya .. Pernah mereka berdua perang dingin , Aku tau bukan sifatnya untuk memulai perang dingin , apalagi dengan pacarku . Tapi Aku tetap bersama pacarku .. Aku berteriak padanya ketika ia bertengkar dengan pacarku itu , matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget .. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya sendiri . Esoknya dia masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya ..
Aku tau dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya dengannya .. karena Aku juga sedih ..

Ketika Aku putus dengan pacarku yang ke-5 , Aku mengajaknya pergi . Setelah kencan satu hari itu , Aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya . Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku .
Aku cerita tentang putusnya Aku dengan pacarku . dan kemudian dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang .. Aku tau pria itu , dia sering mengejarnya selama ini .. Pria yang baik , penuh energi dan menarik ..

Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku , Aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya .. Ketika sampai di rumah , sakit hatiku bertambah kuat dan Aku tidak dapat menahannya .. Seperti ada batu yang sangat berat didadaku .. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun apa daya ..

Air mataku mengalir , tak terasa aku menangis karenanya .. Sudah sering Aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya , yaitu diriku sendiri ..

Handphoneku bergetar , ada sebuah pesan masuk:
"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

DAUN
Aku suka mengoleksi daun-daun , kenapa? Karena Aku merasa bahwa untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali , daun membutuhkan banyak kekuatan ..
Selama 3 tahun Aku dekat dengan seorang pria , bukan sebagai pacar tapi "Sahabat" . Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya , Aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya , CEMBURU ..

Mereka hanya bersama selama 2 bulan .. Ketika mereka putus , Aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya . Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lain lagi ..

Aku menyukainya dan Aku tau bahwa dia juga menyukaiku , tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya? Jika dia mencintaiku , mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah? Ketika dia punya pacar baru lagi , hatiku sedih .. Waktu berjalan dan berjalan , hatiku sedih dan kecewa .. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan .. Tapi , mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati .. Aku tahu kesukaannya , juga kebiasaannya .. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui .. dia tidak mengharapkan Aku sebagai seorang wanita untuk mengatakan bahwa aku menyukainya terlebih dahulu kan? harusnya dia sebagai laki-laki yang memulai .
Diluar itu , Aku mau tetap disampingnya .. memberinya perhatian , menemani , dan mencintainya ..
Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku .. Hal itu seperti menunggu telephonenya tiap malam , mengharapkan dia mengirimiku pesan singkat . Aku tau sesibuk apapun dia , pasti meluangkan waktunya untukku .. Karena itu , Aku menunggunya ..

3 tahun cukup berat untuk kulalui dan Aku hampir menyerah .. Kadang Aku berpikir untuk tetap menunggu . Dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini .

Akhir tahun ke-3 , seorang pria mendekatiku .. setiap hari dia mengejarku tanpa lelah . Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku .. Aku berpikir , apakah aku ingin memberikan ruang kecil di hatiku untuknya?

Dia seperti angin yang hangat dan lembut , mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon .. pada akhirnya Aku sadar bahwa Aku tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku ..

Aku tau Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dari pohon ketempat yang lebih baik .. Akhirnya Aku putuskan meninggalkan Pohon , tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal .. Aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku ..

Aku mengirimkan pesan singkat padanya:
"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

ANGIN
AKU menyukai seorang gadis bernama Daun .. karena dia sangat bergantung pada Pohon.. jadi aku harus menjadi ANGIN yang kuat . Angin akan meniup Daun terbang jauh .. Pertama kalinya , Aku melihat seseorang memperhatikan kami .. Ketika itu , dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman-temannya memerhatikan Pohon .. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis lain , ada cemburu di matanya .. Ketika Pohon melihat ke arah Daun , ada senyum bahagia di matanya ..
Kemudian , memperhatikan daun menjadi kebiasaanku .. sama seperti daun yang suka melihat Pohon . Satu hari saja tak kulihat dia , Aku merasa sangat kehilangan ..

Di sudut ruang itu , kulihat pohon sedang memperhatikan daun .. Air mengalir dari mata daun ketika Pohon pergi .. Esoknya , Kulihat Daun di tempatnya yang biasa , sedang memperhatikan Pohon .. Aku melangkah dan tersenyum padanya . Kuambil secarik kertas , kutulis dan kuberikan padanya . Dia sangat kaget , dia melihat ke arahku , tersenyum dan menerima kertas dariku .. Esoknya , dia datang menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu .. Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi , hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon .

Aku melihat kearahnya , kuhampiri dengan kata-kata manis dariku , sangat pelan , dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku dan telponku ..

Aku tau orang yang dia cintai bukan Aku , tapi Aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku .. Selama 4 bulan , Aku telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x kepadanya .. Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan tapi Aku tidak menyerah .. Keputusanku bulat , Aku ingin memilikinya dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku ..

Aku bertanya ketika menelphonenya , "apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas cintaku? Mengapa kau selalu membisu?"
Dia berkata , "Aku berikan hatiku"
"Ah?" Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar ..
"Aku berikan hatiku padamu!" dia berteriak ..
Kuletakkan telepon .. melompat , berlari seribu langkah ke rumahnya . Dia membuka pintu bagiku , Kupeluk erat tubuhnya ..

Aku bertanya pelan ,
"DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

it's our time to make a history [bagian 6 - bersambung ..]

November 28, 2010



Brian telah memperoleh hidupnya lagi , tidak mudah , namun ia telah mendapatkannya . Dalam hatinya , kebahagiaanlah yang bertahta . tak ada lagi rasa marah , kecewa , penyesalan , atau bahkan perasaan rindu untuk mengulang masa lalu . bukan karena ia telah memperoleh ganti dari Lia , namun karena Brian telah berhasil menata serpihan hati yang telah hancur , menatanya dengan baik hingga tak ada celah disana .
Lia hanyalah masa lalu , masa dimana ia pernah berbagi rasa dan tinggal dalam mimpi yang mereka bangun bersama .
2 tahun yang lalu , ya , itu adalah waktu yang relatif lama bagi Brian untuk menata hatinya setelah dihancurkan menjadi serpihan kecil , dan setelah rentang waktu yang dilewatinya , ia menemukan kedamaian .
"ia akan tinggal di kota ini" kata Brian dalam hati, "apa yang berubah darinya .."

Brian berjalan melewati lorong untuk menuju ke kelasnya , ada mata kuliah yang harus ia tempuh hari ini . sesaat ia ragu , namun kemudia ia memutuskan untuk berjalan memutar , sedikit lebih jauh , namun setidaknya ia bisa melihat kesibukan panitia selama penerimaan mahasiswa baru tahun ini .
Ia melihat Daeng , teman seangkatannya yang berasal dari Maluku .
"Hei Bri ," sapanya, "bantuin aku dong .."
"haha" brian tertawa, "aku ada kuLiah nih ."
"ah kamu tuh" kata Daeng cemberut .
"banyak kah yang daftar?" tanya Brian sebelum melanjutkan perjalanan .
"lumayan , panitia aja sampai kuwalahan." kata Daeng sambil terus menyelesaikan tugasnya .
"yaudah aku ke kelas dulu ya ." kata Brian .
"oke " jawab Daeng .

Saat itulah mata Brian menangkap sosok yang tak asing lagi , perasaan itu muncul lagi , berlahan menyayat luka lama hingga membuat usaha 2 tahun menjadi sia-sia .
Lia , berdiri memandangnya , entah sejak kapan , namun ia memandang Brian . Tampak terkejut , namun bisa menguasai situasi .
Brian bingung , menyapa atau pura-pura tak melihat? tapi ia barusaja bertataoan mata dengan Lia , tak mungkin ia pura-pura tak melihatnya . namun sebelum Brian berhasil memutuskan harus bagaimana , Lia telah berjalan menghampirinya .
"hai" sapa Lia .
"..." Brian tertegun sejenak , dan kemudian menjawab "hai juga"
"tampaknya kamu sedang berusaha berpura-pura tak melihatku ya?" tanya Lia menggoda .
"ah , ga kok ." kilah Brian .

Brian mencari alasan-alasan agar ia segera pergi dari tempat itu . rasa sesalpun muncul karena ia memutuskan untuk berjalan memutar , andaikan ia berjalan sesuai rute , ia tak harus bertemu dengan Lia dan kini ia pasti sudah duduk nyaman di dalam kelas bersama teman-temannya .
"aku harus masuk kelas sekarang" kata Brian cepat , "aku tak ingin terlambat"
"oke ," kata Lia santai, "aku akan menunggumu"
Brian diam saja , dan berjalan menjauh . tidak bisa berfikir jernih lagi , ia hanya ingin segera menjauh dari tempat itu .

3 jam sudah Brian duduk melamun di ruang kelas , tak ada materi yang ia dengarkan siang itu , pikirannya berada jauh dari tempat yang seharusnya .
Brian memiliki 2 pilihan , pergi begitu saja dan tidak bertemu dengan Lia , atau memutuskan untuk menemui Lia dan membiarkan Lia mengobrak-abrik perasaanya lagi .

bersambung


it's our time to make a history [bagian 5 - bersambung ..]

November 19, 2010



Brian melangkah memasuki gerbang dengan hati bergetar , banyak hal sedang berkecamuk dalam dirinya kini . hanya 1 hal yang ia inginkan sekarang , segera bertemu teman-temannya dan bersembunyi di sana , berharap tak bertemu dengan Lia .
Apa ia tak merindukannya? Tentu saja Brian merindukannya , sangat , namun rasa sakit yang terbayangkan bila bertemu dengan Lia lebih besar daripada rasa rindu itu .

Keadaan di tempat itu tak jauh berbeda dengan saat terkhir ia meninggalkannya untuk menuntut ilmu dijenjang yang lebih tinggi . pohon dimana ia mengukirkan nama bersama Lia pun masih berdiri kokoh , entah apakah nama mereka masih ada di sana , tapi brian tidak mau repot-repot memeriksanya , karena langkahnya kini semakin berat saat semakin jauh memasuki tempat itu tanda adanya tanda-tanda dari teman-temannya .
"kemana mereka?" pikir Brian menggerutu .

Seperti mengerti apa yang dipikirkan oleh Brian , tiba-tiba Dindin menepuk pundak Brian dari belakang , sontak mengagetkan Brian .
"hei" sapa Dindin .
"sialan kamu!" kata Brian kaget, "dimana anak-anak?"
"mereka ada disana" jawab Dindin sambil menunjuk ke arah lain , menunjukkan tempat dimana teman-teman Brian berada .
"ayo kita kesana" jawab Brian buru-buru .
"sabar dulu" kata Dindin tenang, "santai saja , siapa tau kita bertemu teman-teman kita yang lain"

Brian sebenaarnya ingin meninggalkan Dindin yang melangkahkan kaki begitu lambat , layaknya seorang pengantin . Namun Brian memutuskan untuk mengikuti Dindin , itu lebih baik daripada ia harus berjalan sendiri memecah keramaian .

Seperti seorang pencuri yang takut bertemu polisi , Brian bertemu dengan Lia . Hatinya seperti diremas tanpa belas kasih , entah mengapa tatapan itu membuat Brian sakit .
sepersekian detik Brian seakan terlempar ke masa lalu , masa dimana ia bergandengan tangan dengan Lia di tempat itu .
Brian menyesal telah dtang , apa yang ia khawatirkan menjadi kenyataan , yaitu bertemu dengan Lia .
Tak cukup sampai disitu , seakan ada yang menuntun mata Brian untuk memandang tangan Lia , ia melihat Lia bergandengan tanga dengan seorang pria . Sakit , hanya itu yang mampu Brian rasakan .

"ada apa?" tanya Dindin ketika mengetahui Brian berhenti , dan kemudian ia mengikuti arah pandangan Brian , paham , tanpa pikir panjang menarik tangan Brian untuk segera meninggalkan tempat itu dan berkumpul bersama teman-teman lain .
Namun Brian menepis uluran tangan Dindin , dengan mata dipenuhi air mata yang ditahan olhe Brian agar tak terjatuh , ia menghampiri Lia .

"senang bertemu denganmu disini" kata Brian .
"eh." Lia terkejut dan terdiam .
"tampaknya kamu cukup bersenang-senang sekarang" kata Brian lagi , menahan emosi .
"apa kabar?" tanya Lia berusaha setenang dan senormal mungkin , namun gagal .
"aku ingin bicara denganmu ." kata Brian Lirih dan berjalan menjauh diikuti Dindin .
Lia memperhatikan Brian sejenak , dan kemudian menyusulnya .
"tunggu sebentar , aku ada urusan" kata Lia pada pria yang tadi menggandengnya .

Kini mereka berada ditepi lapangan basket , sedikit jauh dari keramaian , cukup mendukung untuk melakukan pertangkaran hebat malam itu .
"aku tunggu disana" kata Dindin sambil berjalan menjauh .
Lia mendekat , dan berdiri di depan Brian .
"apa kamu baik-baik saja?" tanya Lia pelan .
Brian terdiam , semua perasaan kecewa yang selama ini ia pendam meronta-ronta ingin meledak saat itu juga .
"aku bertanya padamu .." kata Lia lagi .
"APA AKU TERLIHAT BAIK-BAIK SAJA?!!" tanya Brian balik dengan kemarahan menguasainya .
"maaf," kata Lia , "mungkin aku salah bertanya seperti itu ."
"memang." kata Brian berusaha menahan emosi, "karena kamu tau pasti bahwa aku TIDAK BAIK-BAIK SAJA!!"
"..." Lia menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan .
"berhenti menangis di depanku!" kata Brian , "air mata itu yang telah menghancurkanku hingga hari ini ."
"bila kamu hanya ingin memarahiku" kata Lia , "lebih baik aku pergi"
"kamu tak pernah berubah" kata Brian .
"sama halnya denganmu" timpal Lia .
"apa kau tak berfikir karena siapa aku seperti ini?!" tanya Brian marah .
"seharusnya kita tidak bertemu" kata Lia berjalan menjauh .
Berfikir cepat dan reflek Brian menggapai tangan Lia dan menahan langkah Lia untuk menjauh , "apa kamu lebih bahagia bersamanya?"
"aku merasa tak harus menjawabnya" jawab Lia .
"jawab pertanyaanku!" kata Brian, "agar aku bisa melanjutkan hidup ."
"..." Lia terdiam .
"jawab pertanyaanku!" ulang Brian, "apa kamu lebih bahagia bersamanya?"
"setidaknya dia tak pernah membuatku menangis" jawab Lia , melepaskan pegangan Brian , dan berjalan menjauh .



it's our time to make a history [bagian 4 - bersambung ..]

November 18, 2010



Hubungan Brian dan Lia telah berakhir , ya , berakhir begitu saja tanpa sepatah katapun keluar dari bibir mereka ..
tanpa percakapan , dan tanpa ucapan perpisahan . seakan-akan tak ada kenangan manis di antara mereka berdua .
ironis memang , kebahagiaan yang diperoleh seakan tak ada makna sama sekali ketika masalah hadir , padahal semestinya kebahagiaan itu yang menguatkan mereka ketika datang masalah sekecil apapun atau bahkan masalah yang begitu hebat ..

hari berganti minggu , minggu berganti bulan , mereka telah melanjutkan hidup mereka secara terpisah . tak ada lagi sapaan mesra atau sambutan hangat . seakan mereka tak pernah saling mengenal .
apa Brian bahagia? tidak .
sampai detik ini ia masih memikirkan Lia , kekasihnya yang pergi meninggalkannya begitu saja . memang bukan tanpa sebab , namun perpisahan tanpa ikrar itulah yang memukul Brian .
"masihkan dia memikirkanku?" tanya Brian pada dirinya sendiri .

Minggu depan ada sebuah acara besar di sekolahnya dulu ketika masih duduk di bangku SMA , dan tentu saja sekolah itu masih menjadi tempat dimana Lia menuntut ilmu .
Semua orang akan hadir disana , baik alumni maupun siswa aktif yang tercatat dalam buku besar sekolah . sedikit bimbang , namun Brian dengan mantap memutuskan untuk tidak hadir . ia tak ingin kehadirannya nanti akan membuat Lia kehilangan kesenangan di acara tersebut .

"kamu datang?" tanya Dindin , teman akrab Brian sejak SMA .
"tidak" jawab Brian singkat .
"kenapa?" tanya Dindin penasaran , "semua akan berkumpul di sana , apa kamu tak ingin bertemu teman-teman kita semasa SMA?"
"aku ingin" jawab Brian lagi, "tapi .."
"tapi apa?" tanya Dindin, "Lia?"
" ... " Brian terdiam , hanya mengangguk kecil .
"sudahlah" kata Dindin menenangkan , "toh tempat itu luas , meskipun kamu datang bukan berarti kamu akan bertemu dengannya .."
Brian hanya terdiam dan Dindin kemudia meneruskan kata-katanya .
"jangan bersembunyi Bri , aku yakin kamu bisa" kata Dindin, "kamu harus kuat . dengan begitu kamu akan menjadi sosok baru yang lebih baik dari sebelumnya"

Brian masih terdiam , perasaan dan pikirannya bertempur , meronta-ronta menghadapi konflik yang ada dalam diri Brian .
sesuatu yang penting harus ia lakukan , sesuatu yang bisa merubah hidupnya , ia sadar akan hal itu .



it's our time to make a history [bagian 3 - bersambung ..]

November 17, 2010



Keretakan hubungan Brian dengan Lia semakin besar , tak ada komunikasi sama sekali diantara mereka berdua . buykan kerena Brian tak berusaha , namun karena Lia telah terluka karenanya .
Brian berusaha mengingat apakah ada kalimat yang telah ia ucapkan dan menyinggung hati Lia , namun ia tak bisa mengingatnya . Tapi Lia , dia ingat dengan jelas apa yang telah Brian katakan .

"tolong bicaralah padaku .." kata Brian di depan rumah Lia .
" ... " Lia mendengarnya , namun ia tak memutuskan untuk menemui Brian tapi membiarkannya tetap berdiri di luar .
"bagaimana aku tau apa salahku bila kamu diam seperti ini??" tanya Brian lagi .

Brian telah kehabisan akal untuk mendapatkan perhatian Lia , ia tak tau lagi harus bagaimana .
Terdiam ia duduk di pinggir jalan , berfikir keras tentang apa yang seharusnya ia lakukan setelah ini .
"apa memang akan berakhir seperti ini?" tanyanya dalam hati .

Di tempat lain , Lia sedang menangis dalam kamarnya . Kebingungan dengan apa yang ia rasakan saat ini . ia tau bahwa ia sangat mencintai Brian , namun di sisi lain ia telah terlalu sering menangis karena orang yang ia cintai itu .
"andai memang ini yang harus kita jalani ," kata Lia dalam hati "takdir yang akan mempertemukan kita lagi"


it's our time to make a history [bagian 2 - bersambung ..]

November 16, 2010



Waktu terus berjalan meninggalkan semuanya , tak pernah sedetikpun waktu mau menunggu , bahkan hanya untuk setarik nafas di ujung urat nadi .
Dunia memang milik mereka , Brian dan Lia , cinta tak pernah pudar dari dalam hati mereka , namun tak dapat dipungkiri masalah kini kerap menghampiri mereka .
mungkin memang benar , jarak merupakan faktor utama dari rusuhnya suatu perasaan yang sebelumnya baik-baik saja .

"kemana saja tak bisa aku hubungi?!" tanya Lia kesal pada suatu malam ketika Brian menelponnya .
"maaf , aku tadi sedang sibuk dengan tugas-tugasku" jawab Brian berusaha menenangkan Lia .
"apa kamu merasa jenuh padaku?" tanya Lia menyerang .
"tentu saja tidak .." jawab Brian, "apa kamu pikir semudah itu aku akan jenuh?"
"siapa tau?" kata Lia ketus .
"ada saat aku pergi mengejar mimpi," kata Brian "jalani hari-hari dan buat lebih berarti , tanpa kamu .."
Lia terkejut , dia ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan .
"tapi bukan berarti aku melupakanmu atau tak membutuhkanmu di sampingku .." kata Brian lagi, "kita memiliki mimpi bersama , tapi kita juga punya mimpi sendiri-sendiri yang harus kita raih .."
"apa aku terlalu egois terhadapmu?" tanya Lia diiringi tangisan .
"tidak .." jawab Brian pelan, "aku tau itu semua kamu lakukan karena kamu mencintaiku ."
"dan apakah kamu tak mencintaiku sebagaimana aku mencintai kamu hingga kamu bisa tak memberikan kabar padaku?" tanya Lia .
"aku mencintaimu setulus kamu mencintaiku ." jawab Brian, "hanya saja aku mencintaimu dengan cara yang berbeda ."
"kenapa kamu selalu membuatku menangis??" tanya Lia sembari mengakhiri panggilan dan melemparkan handphone miliknya ke tempat tidur .
"maafkan aku ," kata Brian "aku tak bermaksud seperti itu .."

Malam itu menjadi malam yang suram bagi mereka , menambah dingin hawa yang di tiupkan oleh sang malam .
Brian terdiam , seakan ada besi berat menghantam perutnya ,
"apakah aku terlalu acuh padamu?" bathinnya bertanya .
Brian tau , ini bukan tentang bagaimana mendapatkan maaf dari Lia , tapi tentang bagaimana ia harus memahami Lia ..



it's our time to make a history [bagian 1 - bersambung ..]

November 15, 2010



"aku bahagia bersamamu , aku tak ingin kita berpisah" kata Lia dalam pelukan Brian .
"aku mengharapkan hal yang sama" kata Brian sambil menggenggam tangan Lia .

mereka sedang dimabuk cinta , ya , begitulah yang terjadi pada semua pasangan . dunia milik mereka sendiri , dan yang lain hanyalah figuran .
Brian adalah seorang mahasiswa semester pertama di sebuah Pts ternama di kota itu , sedangkan Lia masih duduk di bangku SMA . mereka saling mengenal ketika mereka masih berada dalam 1 sekolah yang sama , setahun yang lalu .

"apa kamu akan senantiasa setia meskipun jauh dariku?" tanya Lia penuh harap juga keraguan suatu siang sebelum Brian pergi .
"tentu saja , apa aku akan tega untuk menduakanmu?" jawab Brian sambil tersenyum .
senyum merekah dari bibir Lia , sebuah ketenangan bathin telah diberikan Brian dalam jawabannya , meskipun Lia masih was was untuk itu . tapi setidaknya kekasih hatinya telah meyakinkannya bahwa dia akan setia .

"kenapa kamu mencintaiku?" tanya Lia .
"alasan yang sama dengan kenapa aku hidup .." jawab Brian pelan . "aku mencintaimu karena aku telah ditakdirkan untuk itu"
"kamu percaya takdir itu ada?" tanya Lia lagi .
"tentu saja." jawab Brian "kamu pikir bagaimana mungkin kita bisa seperti sekarang ini kalau bukan takdir?"
"menurutku takdir tak melakukan apapun untuk kita." jawab Lia "karena kita sendiri yang memilih untuk saling mencintai .."
"...." Brian terdiam , mencoba memahami .
"andaikan kita memilih untuk berpisah , apakah takdir pula yang menjadikan kita terpisah?" tanya Lia lagi .
Brian diam , hanya menggelengkan kepala .
"aku percaya takdir itu ada" kata Lia tersenyum dan menggenggam tangan Brian "tapi takdir tak membuat kita memutuskan sesuatu , karena ini semua adalah pilihan kita sendiri"
"aku .." Brian tertahan .
"aku mencintaimu karena aku memang mencintaimu" kata Lia "bukan karena takdir yang menginginkannya terjadi ."


Say 'Hello' .. ^^

free counters

 

Find us on Facebook

Most Reading