Selamat datang dalam duniaku yang sempit ini. selamat menikmati apa yang telah aku tulis, tapi ada yang harus selalu kamu ingat bahwa tidak semua yang aku tulis adalah aku dan tidak semua yang aku bicarakan adalah kamu..

salahkah aku?

Juni 27, 2014


wah udah lama banget ternyata aku ga nulis di blog ini, alasannya ya sibuk, males, dan banyak hal lain yg tampaknya lebih menarik.. :)
lagipula, blog ini bukan salah satu blog populer yg rutin dibuka dan dibaca oleh orang pada umumnya. andaikan pun ada yg membaca, pasti karena secara 'tidak sengaja' menemukan link random yg berserakan di dunia maya khususnya google. Hehe

sebagai artikel pembuka setelah berabad-abad berbulan-bulan tidak menuliskan apapun, kali ini aku pengen membahas hal yg menjadi esensi blog ini sejak awal dibuat, how to build a good relationship. yeee..

beberapa malam yg lalu, ada seseorang yg mengatakan bahwa sebenarnya diantara 2 orang yg bertengkar sebenarnya merasa bahwa diri mereka masing-masing berada pada posisi yg benar. jadi, benar dalam perspektif diri mereka sendiri, atau kalau mau sedikit lebih luas ya benar dalam perspektif 'kelompok' mereka.

aku punya pemahaman sendiri mengenai 'rasa benar' yg dirasakan oleh pasangan yg bertengkar ini, yaitu menekan ego sendiri sampai pada batas terendah yg kita miliki. seberapa rendah? relatif. setiap orang memiliki batas yg berbeda-beda, sama seperti batas sabar antara 1 orang dengan orang yg lain tidak selalu sama. lalu, kenapa harus menekan ego? bukankah pada akhirnya kita akan 'lelah' jika harus menekan ego terus-terusan? bukankah kita juga ingin dimengerti selain harus mengerti? nah mari simak penjelasanku berikut :)

asumsikan Tono dan Tini adalah sepasang kekasih yg saling mencinta, tapi seperti pasangan pada umumnya, tidak ada gading hubungan yg tak retak bermasalah. suatu ketika Tini melakukan sesuatu yg ternyata membuat Tono marah, dan ternyata Tono ini tipe orang yg lebih suka memendam emosinya sendiri daripada harus 'meledak' secara langsung. Tono ini lebih suka diam dengan kemarahan ataupun kekecewaan tersebut tanpa harus meluapkan hal tersebut ke orang lain. dalam situasi seperti ini, Tini bingung kan? ya dong, baginya tak ada angin tak ada hujan kok si pacar tiba-tiba ngambek? what's wrong dude? "mungkin lagi M (males).." pikir Tini.
nah, sampai disini setidaknya sudah ada 1 permasalahan/ konflik yg bisa kita bahas agar Tono dan Tini bisa rujuk dan saling mencinta lagi. Ciee.

Rekayasa 1
Tono yg sudah jengkel, memendam emosinya sendiri dan mendiamkan Tini. bisa jadi karena ia ga ingin menunjukkan kemarahannya ke orang yg dia sayang, bisa jadi karena ia sudah terlalu lelah untuk mengungkapkan hal yg sama secara berulang-ulang (mungkin ini bukan kali pertama Tini melakukan kesalahan yg sama). Tini, yg merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa jadi ikut cuek ternadap Tono. tidak ada usaha untuk mencari tau dan meminta maaf.
ending: saling diam dan kemudian putus.

Rekayasa 2
Dengan kondisi Tono sama seperti pada rekayasa 1, Tini berusaha mencari tau ada apa dengan kekasihnya itu meskipun dia merasa bahwa dia tidak melakukan kesalahan apapun. berusaha memperbaiki hubungan yg telah ia bangun bersama Tono, karena ia tak rela hubungan itu rusak begitu saja. baginya tak apalah mengalahkan ego sendiri jika hal tersebut bisa membawa kebaikan bersama. hingga akhirnya Tono mau menjelaskan kenapa dia jengkel, dan Tini-pun bisa memberi pembelaan pada dirinya sendiri.
ending: 1) saling memahami, menikah, punya anak, hidup bahagia. 2) memahami masalah yg ada dari 2 sudut pandang yg berbeda (Tono dan Tini), tapi menyadari bahwa semuanya memang tak bisa dipaksakan, putus baik-baik.

setelah membaca penjelasan diatas, mungkin ada yg bertanya "loh rekayasa 1 dan 2 kok sama-sama bisa putus? sama aja dong kalo gitu antara menahan ego ataupun tidak?"
ya tidak dong. perhatikan prosesnya dan hasil akhirnya. yg 1 tidak tau permasalahan sebenarnya, yg 1-nya lagi memahami masalah apa yg mereka hadapi meskipun pada akhirnya mereka memutuskan berpisah.

sekarang, tinggal masing-masing dari kita mau bersikap seperti apa terhadap setiap masalah yg ada, mau berusaha memperbaiki atau mau membiarkannya begitu saja. tidak ada kalimat harus. semua terserah pada masing-masing individu. dan tak ada yg perlu menjadi 'orang lain' untuk memecahkan sebuah masalah, karena kamu bisa tetap menjadi kamu dan akan terus begitu sampai kamu memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik lagi.. :)

tidak berjodoh

Oktober 13, 2013

Ak ingat percakapanku dg umiku bbrp tahun yg lalu..
"gimana kalo dia drebut cwo lain?" kataku sambil terus mengekor umi yg sedang menyiapkan makanan ddapur.
"berarti kalian tidak berjodoh"
Sejak itulah sedikit demi sedikit rasa cemburuku susut dan jauh lebih percaya pada pasanganku.

Jadi saat pasanganku sdg brsama laki-laki lain ak tak pernah mempermasalahkan hal itu, yg ak minta hanya dia menjaga perasaanku dan menghormatiku sebagai pasangannya dan sebagai pria. Itu saja.

Say 'Hello' .. ^^

 

Find us on Facebook

Most Reading